Pernakan terbayangkan jika nantinya kapal bergerak hanya dengan gelombang laut? Tentu saja bisa.Yutaka Terao professor dari universitas Jepang menciptakan kapal yang berpenggerak energi gelombang laut. “Oli adalah energi yang terbatas tetapi tidak dengan gelombang laut”, ujarnya. Kapal yang diberi nama Suntory Mermaid II ini akan mencetak rekor perjalanan kapal berpenggerak energi gelombang dari kepulauan Hawai menuju Jepang dengan jarak 4.350 mil melintasi samudara Pasifik yang terluas di dunia itu. Kapal catamaran (kapal berlambung dua) tersebut akan bergerak dengan metode yaitu gelombang yang datang akan dikonversikan oleh dua buah sirip yang terpasang dan per di depan kapal menjadi dayung yang akan menggerakkan kapal ke depan. Kapal tersebut berkecepatan 5 knot, terbuat dari alumunium alloy yang ringan dan tidak mudah korosi dan dilengkapi dengan solar cell berdaya 560 watt, layar, dan penggerak baling-baling (digunakan apabila keadaan darurat). Teknologi yang diusung pada pelayaran itu nantinya akan membuka jalur yang lebih besar misalnya untuk keperluan cargo shiping.
Pembangkit listrik tenaga angin seringkali terpasang dengan satu tiang dengan satu baling-baling, tetapi seorang arsitek London Laurie Chetwood membuat hal yang fenomenal dengan membuat dam angin untuk menggerakkan generator. Konspenya adalah menampung angin yang datang dan mengumpulkannya jadi satu dengan bantuan desain layar berberntuk kerucut untuk menggerakkan generator sehingga menghasilkan listrik yang lebih effisien dari sistem sebelumnya. Berdasarkan perhitungan komputer dam tersebut dapat menghasilkan 150 megawatt pertahunnya dan cukup untuk mengaliri listrik 35 rumah. Dam tersebut dibuat dengan menggunakan bahan kevlar sail yang memiliki luasan 17.000 square foot dengan kaki-kaki yang terbuat dari alumunium, dam tersebut rencananya akan dipasang pada tebing di daerah Sungai Ladoga, Laut Baltic pada tahun 2009. Rencana tersebut bukan hanya mendapat pujian, tetapi juga ada kritikan dari seorang peneliti MIT (Massachusetts Institute of Technology) yaitu Stephen Connors yaitu pakar dibidang energi angin, dia mengatakan bahwa desain tersebut akan menimbulkan turbulensi sehingga energinya kurang maksimal saat bekerja, dan angin pun tidak bergerak dari satu arah saja tetapi dapat berhembus pada arah yang berlawanan.
E. sakazakii sendiri awal ditemukan pada tahun 1958 pada 78 kasus bayi dengan infeksi meningitis. Sejauh ini juga dilaporkan beberapa kasus infeksi serupa di beberapa negara. Karena di awal kehidupannya bayi masih mempunyai sistem kekebalan tubuh yang rendah, risiko terbesar adalah konsumsi oleh bayi yang lebih muda. Banyak kasus dilaporkan di bagian Neonatal Intensive Care Units (NICUs) beberapa rumah sakit di Inggris, Belanda, Amerika dan Kanada. Di Amerika Serikat angka kejadian infeksi E. sakazakii yang pernah dilaporkan adalah 1 per 100.000 bayi. Pada bayi prematur dan berat lahir sangat rendah, angka kejadian menjadi 9,4 per 100.000.
Namun tidak semua strain dari bakteri E. Sakazaki ini berbahaya. Hanya ada 2 strain yang diketahui berpotensi sebagai penyebab kematian. Mungkin karena hal itulah, meski 20% susu dan makanan formula telah beredar, belum ada laporan korban keracunan atau terinfeksi karena mengkonsumsi produk tersebut. Meskipun infeksi karena bakteri ini sangat jarang, tetapi dapat mengakibatkan penyakit yang sangat berbahaya sampai dapat mengancam jiwa, di antaranya adalah neonatal meningitis, hidrosefalus, sepsis, necrotizing enterocolitis dan infeksi saluran kencing. Gejala yang dapat terjadi pada bayi atau anak di antaranya adalah diare, kembung, muntah, demam tinggi, bayi tampak kuning, kesadaran menurun (malas minum, tidak menangis), mendadak biru, sesak hingga kejang.
WHO (World Health Organization) dan USFDA (United States Food and Drug Administration) telah menetapkan bahwa susu bubuk formula bayi memang bukan produk steril. Sedangkan susu formula cair yang siap saji, dianggap sebagai produk steril karena dengan proses pemanasan yang cukup. Sehingga di bagian perawatan bayi NICU, USFDA menggunakan perubahan rekomendasi dengan pemberian susu bayi formula cair siap saji untuk penderita bayi prematur yang rentan terjadi infeksi.